Mungkin nama Tan Malaka atau yang lebih dikenal dengan nama Ibrahim gelar Datuk Tan Malaka kurang begitu populer di kalangan masyarakat Indonesia bila dibandingkan Soekarno atau Moh. Hatta. (agen bola terpercaya) Tan Malaka adalah seorang pejuang Indonesia yang lahir di Nagari Pandam Gadang, Suliki, Sumatera Barat pada tanggal 2 Juni 1897. Tan Malaka meninggal di Desa Selopanggung, Kediri, Jawa Timur, 21 Februari 1949 saat berusia 51 tahun.agen bola terpercayaTan Malaka adalah Bapak Republik Indonesia dan pejuang kemerdekaan Indonesia, pemimpin sosialis serta politisi yang mendirikan Partai Murba. Tan Malaka dikenal sebagai pejuang yang militan, radikal, dan revolusioner ini banyak melahirkan pemikiran-pemikiran yang berbobot dan berperan besar dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia. Dengan perjuangan yang gigih maka ia dikenal sebagai tokoh revolusioner yang legendaris.Diluar sepak terjangnya di dunia politik, tak banyak yang tahu bahwa Tan Malaka sebenarnya sangat ahli dalam memainkan Sepak Bola. Tan Malaka memang merupakan salah satu dari pejuang bangsa yang mencintai sepak bola. Tan Malaka pantas disandingkan dengan tokoh tokoh pejuang indonesia besar lainnya, seperti Bung Hatta, Sutan Sjahrir, Soekarno, hingga MH Thamrin yang ingin menunjukkan bahwa bangsanya juga manusia. Dari permainan sepak bola ini, dirinya ingin menegaskan kemanusiaan bangsa Indonesia karena olahraga adalah simbol dari tekad Tan Malaka untuk mengangkat harkat martabat bangsa, bukan ajang pertarungan gengsi dari sejumlah pengurusnya yang hanya memikirkan kepentingan pribadi dan materi seperti yang terjadi belakangan ini di dalam kepengurusan PSSI.Ayahnya, Rasad Chaniago adalah seorang pegawai rendahan dan ibunya, Sinah Simabur adalah seorang ibu rumah tangga. Dalam keluarga, Tan adalah sulung dari dua bersaudara dan sangat menyukai permainan sepak bola sejak kecil, Agen bola terpercaya. Sewaktu masi muda, Tan Malaka juga hobi berenang di sungai hingga bermain layang-layang. Sifatnya keras dan pemberani tapi cerdas dan hal inilah yang membuatnya berbeda dari anak – anak sebayanya. Tan Malaka selalu berupaya untuk bisa menjadi lebih baik dari teman teman sebayanya walaupun hanya dalam sebuah permainan sepak bola. Hal itulah yang membuat Tan Malaka mengukir sejarah panjang perjuangan bangsa Indonesia. Karena kecerdasannya itu, Tan malaka direkomendasikan sejumlah guru untuk melanjutkan pendidikan di Sekolah Guru Negeri, Fort de Kock, yang muridnya khusus hanya dari kalangan ningrat dan pegawai tinggi.Pada saat Tan Malaka berumur 16 tahun ia melanjutkan pendidikannya ke Rijks Kweekschool di Harleem, Belanda pada 1913. Di kota itulah, Tan terkenal dalam urusan sepak bola. Walaupun tinggi badannya bisa dibilang tidak terlalu tinggi, yaitu hanya 165 cm namun dirinya membuat teman – temannya kagum karena ketangkasannya menggiring bola.Tan Malaka sempat bergabung bersama klub profesional Vlugheid Wint. Dalam klub itu, Tan Malaka dikenal sebagai penyerang andal yang mempunyai kecepatan di atas rata – rata. Tan Malaka bermain di garis depan, beberapa penjaga gawang pernah merasakan tendangan kerasnya meski bermain tanpa alas kaki. Cuaca dingin yang menghinggapinya di Belanda tak menyurutkan kecintaannya terhadap sepak bola. Tan Malaka sering kali tidak menggunakan jaket tebal pada saat bermain bola. Kakinya pun sering terluka karena tidak menggunakan sepatu.Pada tahun 1916, Tan Malaka pergi meninggalkan Harleem dan melanjutkan perantauannya di beberapa negara. Walaupun dirinya sempat gagal untuk mendapatkan izin mengajar, karena tak lulus ujian guru di Belanda, Tan Malaka mendapat pelajaran penting tentang politik dan kerakyatan. Tiga tahun berada di Belanda, Tan kemudian memutuskan untuk kembali ke Nusantara pada 1919. Ia pulang dengan satu cita-cita, yaitu mengubah nasib bangsa Indonesia, termasuk dalam urusan sepak bola.Sepulangnya Tan Malaka dari Belanda, dirinya kemudian bekerja sebagai guru di sebuah perkebunan di Deli bernama Senembah pada pertengahan 1919. Di daerah yang masih satu pulau dengan tanah lahirnya itu, Tan terenyuh karena masih banyak penduduk pribumi hidup dengan tidak layak. Hal itu sangatlah berbeda dengan kakayaan dan tanah Deli yang penuh akan sumber daya alam melimpah. Kekayaan itu akhirnya habis karena dihisap dan dikuras oleh pemerintah kolonial.Pada awal tahun 1920, tak jarang ditemui palang peringatan bertuliskan Verboden voor Inlanders en Houden atau “Dilarang Masuk untuk Pribumi dan Anjing” di halaman depan sejumlah lapangan sepak bola. Tak sedikit pula orang pribumi harus gigit jari hanya untuk sekadar menyalurkan hobi sepak bola. Beberapa klub seperti Setiaki, Ster, dan Den Bruinen di Batavia adalah saksi atas politik klasifikasi kelas yang merambah ke urusan sepak bola. Sejumlah klub itu sering berinteraksi dengan sejumlah tokoh pergerakan seperti Bung Hatta, Soekarno, Sjahrir, MH Thamrin, dan juga Tan Malaka. Semangat Sumpah Pemuda kemudian dijadikan alat untuk mendorong pemuda bergabung melawan kebusukan NIVB (Nedherlands Indish Voetbal Bond) milik Belanda.Saat itu Tan Malaka diusir dari Indonesia dan dibuang ke Amsterdam, lantaran aktif dalam gerakan komunis dan Islam untuk menghadapi imperialisme Belanda pada Mei 1922. Kurang lebih selama 20 tahun, Tan mengembara di negeri seberang. Beberapa negara ia singgahi, sejumlah nama samaran pun ia pakai untuk mengelabui para intel polisi. Meski berada di negeri orang, Tan Malaka tidak pernah melupakan leluhur karena kecintaannya terhadap sepak bola tak luntur. Di negeri seberang, ia pun mengikuti perkembangan kabar kesuksesan pemuda Nusantara mengangkangi pemerintah kolonial Belanda dalam hal sepak bola. Ketika itu, Persatoean Sepakraga Seloeroeh Indonesia (sekarang PSSI) di bawah pimpinan Ir Soeratin Sosrosoegondo mampu membuktikan sepak bola Nusantara dapat unjuk gigi tidak hanya kepada Belanda, tetapi kepada dunia.Pada era 1930-an, Nusantara berhasil menduduki posisi elit sepak bola Asia bersama Israel (ketika itu masih masuk zona Asia), Burma (Myanmar), dan Iran. Dengan menggunakan nama Hindia Belanda, Nusantara menjadi tim sepak bola Asia pertama yang tampil dalam Piala Dunia 1938. Melihat kesuksesan itu Tan Malaka merasa bangga karena sepak bola mampu bertransformasi bukan hanya sekadar produk kebudayaan, tetapi juga produk politik, yang di dalamnya erat persoalan identitas dan semangat kebangsaan Indonesia. Bahkan, ketika kembali ke tanah air dan menetap di Banten pada 1943, Tan Malaka masih tetap mencintai sepak bola. Tan Malaka menggunakan nama samaran Ilyas Hussein. Di daerah yang ditakuti, termasuk oleh tentara Jepang, karena mewabahnya penyakit kudis, disentri, dan malaria, pribumi hidup sengsara dengan menjadi Romusha. Ketakutan itu tidak mempengaruhi Tan Malaka untuk berjuang agar pribumi tidak berkecil hati.Tan Malaka sering membantu rakyat kecil di Banten lewat sepak bola. Di tengah penindasan Jepang, Tan menjadi penggagas pembangunan lapangan sepak bola di Banten. Tak jarang pula, ia turun langsung ke lapangan dan bermain sebagai pemain sayap maupun hanya sekadar menjadi wasit di kejuaraan Rangkasbitung. Selesai bermain, Tan Malaka yang dikenal selalu memakai celana pendek, helm tropis, dan tongkat itu biasanya mentraktir para pemain tim sepak bola yang berlaga dalam kejuaraan tersebut.Melihat sepenggal fakta sejarah ini, Tan Malaka memang tak berjuang secara langsung membela Nusantara melalui sepak bola. Namun, ia mengerti menjadi pecinta sepak bola yang paham bahwa olahraga itu merupakan jati diri bangsa. Tak jarang pula dalam beberapa pemikirannya, Tan menghubungkan hal-hal kecil dalam olahraga tersebut yang dapat diterapkan di berbagai bidang kehidupan sosial masyarakat.Jika saja sejumlah pengurus itu bisa mengilhami perjuangan Tan Malaka, bukan tidak mungkin sepak bola menuju ke arah yang baik. Tan Malaka memang pejuang kontroversial karena gagasan komunisnya. Namun, setidaknya pemikirannya mampu membuat tokoh besar seperti Soekarno dan Bung Hatta mengakui bahwa dia juga bapak Republik yang ingin membuat rakyatnya sejahtera. Keinginan itulah yang harus ditiru oleh sejumlah pengurus sepak bola Indonesia.Untuk informasi pendaftaran agen bola terpercaya, anda dapat mendaftar disini